Title
Desk Khusus Industri Sepatu dan Tekstil Cetak Email
Ditulis oleh Aprisindo   
Senin, 19 Oktober 2015 00:00
Ketua umum Bapak Eddy Widjanarko menyampaikan beberapa hal dan permasalahan industri sepatu kepada Kepala BKPM, Menperin dan Mendag pada sosialisasi Desk khusus investasi tekstil & sepatu
 
(dari kiri) Bapak Drs. Harijanto, Bapak Thomas Lembong, Bapak Frangky Sibarani, Bapak Saleh Husen, Bapak Benny Sutrisno dan Bapak Eddy Widjanarko sedang komprensi pers
Sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan program  "Investasi Padat Karya Menciptakan Lapangan Kerja" diresmikan  Presiden  R.I pada tanggal  5 Oktober 2015 dan untuk  mendorong percepatan realisasi investasi padat karya khususnya industri sepatu dan tekstil, maka BKPM bekerjasama  dengan  Kemenkeu,  Kemenperin,  Kemendag, Kemenaker dan didukung oleh Aprisindo dan API membentuk Desk Khusus Investasi Tekstil dan Sepatu di BKPM. Tujuan dari pembentukan  adalah  untuk  memfasilitasi  penyel permasalahan   yang  dihadapi  oleh  perusahaan  tekstil dan sepatu di Indonesia.

Guna mengoptimalkan program tersebut, BKPM pada tanggal 5 Oktober 2015 telah mengadakan sosialisasi Desk Khusus Investasi Tekstil dan Sepatu yang dihadiri oleh para pelaku industri  sepatu  dan  tekstil. Acara  tersebut  dipimpin  Kepala BKPM Bapak Franky Sibarani dan dihadiri pula olah Menperin Bapak Saleh Husen, Mendag Bapak Thomas Lembong serta dari Aprisindo  Bapak  Drs.  Harijanto,  Bapak  Eddy  Widjanarko, Bapak Binsar Marpaung, SH,MH, Bapak Ig. Sigit Murwito dan API Bapak Benny Sutrisno.

Dalam sambutannya Bapak Frangky menyampaikan,   desk khusus investasi sektor tekstil dan sepatu ini dimaksudkan untuk membantu investor yang sedang menghadapi masalah, hingga PHK dapat dicegah. Investor yang sedang menghadapi masalah silakan   datang   untuk   difasilitasi.   Desk ini menanganipermasalahan yang dihadapi investor secara case by case, karena dikedua sektor industri tersebut. Ada pun yang terlibat dalam Desk Khusus Industri Sepatu dan Tekstil ini terdiri dari BKPM, Kementerian Tenagakerja, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Keuangan, dan kementerian terkait lainnya, serta didukung oleh APRISINDO dan API. Masing-masing Kementerian sudah menunjuk person in charge yang mewakili dalam desk ini.

Sementara  itu,  Ketua Umum Aprisindo Bapak  Eddy Widjanarko dalam acara tersebut menyampaikan beberapa hal dan permasalahan yang dihadapi industri sepatu.

Menurut Bapak Eddy industri sepatu dalam beberapa tahun terakhir terjadi peningkatan jumlah ekspornya, pada tahun 2014 sebesar USD 4,5 milyar naik dari tahun 2013 yang sebesar USD 3,9 milyar  atau sekitar 15 %, kenaikan tersebut masih jauh dari yang diharapkan karena Indonesia tertinggal jauh dari Vietnam yang 3 kali lebih besar nilai ekspornya. Yang menjadi kendala utama pada industri sepatu adalah UMP yang dalam 2 tahun terakhir kenaikannya tidak dapat terprediksi, bahkan pada tahun 2013  kenaikan  UMP  mencapai 40%. Hal ini sangat

Hal  ini  sangat  memberatkan industri sepatu mengingat industri ini merupakan industri padat karya dan jika hal ini tidak diatasi beban industri sepatu semakin besar. Permasalahan lainnya adalah adanya kenaikan BBM dan tarif daya listrik. Bapak Eddy mengharapkan agar masalah UMP menjadi prioritas pemerintah agar industri sepatu bisa berjalan dan berkembang. Bapak Eddy yakin jika masalah UMP bisa teratasi, industri alas kaki akan berkembang dan mampu memberikan lapangan kerja baru bagi pencari kerja.

Hal serupa juga disampaikan oleh beberapa pelaku industri tekstil lainnya yang hadir dalam acara tersebut, bahwa masalah UMP adalah  masalah  yang  sangat  serius  dan  harus  segera dibahas dengan kementerian terkait lainnya untuk dicari jalan keluarnya agar industri bisa berjalan. (R)