Title
Sektor Manufaktur Menjadi Salah Satu Ujung Tombak Perekonomian Indonesia
Ditulis oleh Aprisindo   
Selasa, 02 Oktober 2018 04:18
 
Pemerintah bertekad memacu sektor industri manufaktur agar terus meningkatkan nilai tambah tinggi, terutama melalui penerapan revolusi industri 4.0. Hal ini sejalan upaya untuk mentrasformasi ekonomi menuju negara yang berbasis industri.
     Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, Aktivitas industri konsisten memberikan multiplier effect bagi pertumbuhan ekonomi nasional, antara lain penerimaan devisa dari eskpor, pajak, dan cukai serta penyerapan tenaga kerja yang cukup banyak.
          Menperin menjelaskan, industri pengolahan menjadi kontributor terbesar bagi Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan nilai mencapai 19,83 persen pada triwulan II tahun 2018. Sementara untuk pertumbuhan industri pengolahan non-migas, berada di angka 4,41 persen, lebih tinggi dibandingkan capaian di periode yang sama tahun lalu sebesar 3,93 persen. Adapun sektor-sektor yang menjadi penopang pertumbuhan industri pengolahan non-migas di kuartal dua tahun ini, antara lain adalah industri karet, barang dari karet dan plastik yang tumbuh sebesar 11,85 persen, kemudian diikuti industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki sebesar 11,38 persen.     
        Tentu sekarang kita harus melihat ke depan, bahwa sektor manufaktur menjadi salah satu ujung tombak perekonomian Indonesia karena kontribusinya mencapai 18-20 persen.Jadi, Kemenperin tetap fokus untuk memperkuat sektor riil di dalam negeri, ungkap Airlangga. Selanjutnya, sepanjang tahun 2017, industri manufaktur menjadi penyumbang tertinggi hingga 74,10 persen dalam ekspor Indonesia dengan nilai mencapai USD 125,02 milyar, sisanya produk lulu.  
          Dengan menerapkan industri 4.0, aspirasi besar nasional yang akan dicapai adalah membawa Indonesia menjadi 10 besar ekonomi di tahun 2030 dan mengembalikan angka net export industri 10 persen dari total PDB,” tutur Airlangga.
          Kontribusi besar lainnya dari setor manufaktur, yakni penerimaan negara dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) industri pengolahan hingga Juli 2018 mencapai 29,9 persen atau senilai Rp194,36triliun, yang mampu melampaui sektor perdagangan, jasa keuangan, dan pertambangan. Bahkan, penerimaan PPN industri pengolahan tersebut meningkat 12,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2017.
Sementara dari jumlah penyerapan tenaga kerja, industri juga beperan penting seiring dengan naiknya pertumbuhan. Pada tahun 2010, terdapat 13,82 juta tenaga kerja di sektor industri, naik menjadi 17,5 juta tenaga kerja di tahun 2017. Maka itu, di mata internasional, Indonesia dipandang sebagai salah satu negara industri terbesar di dunia. Menurut United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), Indonesia menempati  posisi  ke-9 dunia  sebagai  negara penghasil nilai tambah terbesar dari sektor industri. (sumber kemenperin)