Title
Kunjungan Tim Riset Ekonomi dan Industri BCA Ke APRISINDO
Ditulis oleh Aprisindo   
Selasa, 21 Agustus 2018 03:59
Pada tanggal 10 Juli 2018, Tim Riset Ekonomi dan Industri dari BCA Grup Bapak Agus Salim dan Ibu Gabriella Yolivia telah mengadakan kunjungan ke Sekretariat APRISINDO untuk bertukar informasi mengenahi kondisi industri alas kaki di Indonesia. Hasil pertemuan tersebut  sebagai riset dan kajian berbagai industri termasuk alas kaki yang dilakukan BCA Grup secara berkala. Riset tersebut akan diberikan kepada pejabat tertentu dikalangan BCA itu sendiri  dan bersifat independen.
       Pada kesempatan tersebut, Tim riset BCA  diterima oleh Direktur Eksekutif APRISINDO Bapak Firman Bakri yang didampingi oleh staf dan redaksi jurnal APRISINDO. Beberapa hal yang telah disampaikan Pak Firman, sebagaimana yang ditanyakan, bahwa industri alas kali Indonesia menduduki peringkat empat besar dunia setelah China, Vietnam, India dan Indonesia.
          Pada tahun 2017 nilai ekspor alas kaki sebesar USD 4,9 milyar, naik dari tahun sebelumnya yang sebesar USD 4,6 milyar. Saat ini Vietnam merupakan negara  pesaing utama bagi industri alas kaki Indonesia, jika dilihat dari pertumbuhan nilai ekspor-nya alas kaki Vietnam cukup besar yakni mencapai 2 digit, sementara Indonesia kecil. Bisa dimungkinkan bahwa Kamboja untuk kedepan juga bisa menjadi salah satu pesaing Indonesia, mengingat saat ini para pelaku industri-nya mulai melirik sektor alas kaki.
     Beberapa permasalahan yang dihadapi industri alas kaki Indonesia diantaranya masalah ketenagakerjaan. Industri alas kaki Indonesia berbasis padat karya yang rentan terhadap regulasi pemerintah khususnya tentang kenaikan UMP. Hal tersebut terlihat dari makin banyaknya perusahaan alas kaki yang melakukan relokasi ke daerah Jawa Tengah, seperti Jepara mengingat upah buruh diwilayah tersebut lebih kecil dibandingkan Jawa Barat dan Banten. Dari segi investasi juga menjadi penghalang karena, dikawatirkan jika pemerintah kurang memperhatikan hal ini investor akan berpindan ke negara pesaing Indonesia seperti Vietnam dan China sebab di negara tersebut upah buruh relative lebih kecil jika dibandingkan dengan di Indonesia.
         Lebih lanjut, permasalahan yang dialami industry alas kaki adalah masalah bahan baku,  bahan baku alas kaki di Indonesia 60 % merupakan impor dan masalah tersebut sejak dulu belum bisa juga teratasi.  Masalah selanjutnya adalah Bea masuk yang dikenakan oleh negara Eropa, dengan berakhitnya fasilitas Generalized System of Preference (GSP) yang diberikan Amerika Serikat yang berupa pembebasan tarif bea masuk terhadap impor barang-barang tertentu, salah satunya alas kaki pemerintah segera melakukan negosiasi ulang agar fasilitas tersebut tetap diberikan untuk Indonesia, serta masalah EU  Indonesia FTA, mengingat saat ini Vietnam yang melakukan ekspor alas kaki ke Uni Eropa sudah 0 % untuk bea masuknya, semantara Indonesia masih terkena bea masuk dikisaran 11 %, hal ini karena perjanjian tersebut belum ada dan masih dalam proses.(R)