Title
IndonesianEnglish (United Kingdom)
Sejarah

LEBIH DARI 20 TAHUN ASOSIASI PERSEPATUAN INDONESIA.


Industri alas kaki di Indonesia tumbuh seiring dengan perkembangan ekonomi Indonesia yang terjadi pada awal tahun 1970-an. Industri alas kaki tumbuh stabil tahun demi tahun, namun secara sektoral industri alas kaki belum menunjukkan kinerja yang menggembirakan. Dari perpektif skala usaha, hanya industri berskala besar yang mampu bertumbuh secara signifikan. Sepatu Bata, misalnya, salah satu produsen alas kaki berskala besar ini memiliki kemampuan bersaing yang cukup baik selama bertahun-tahun.

Namun, sejak awal tahun 1980-an, industri alas kaki Indonesia tumbuh cepat seiring dengan masuknya investasi asing yang khusus memproduksi alas kaki tujuan ekspor. Perkembangan industri yang terjadi sangat cepat ini juga didukung oleh upaya pemerintah yang terus berupaya menjaga situasi politik dan keamanan dalam negeri tetap kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya industri alas kaki. Tumbuhnya industri pendukung juga menjadi salah satu faktor berkembangnya industri alas kaki nasional. Kondisi ini telah menyebabkan ongkos produksi lebih efisien serta target produksi yang sesuai permintaa buyer luar negeri.  

Perkembangan industri yang demikian cepat memerlukan manajemen yang lebih baik. Alhasil, para pengambil keputusan cukup memahami situasi ini. Pada tahun 1988, Menteri Perindustrian mengumpulkan para pabrikan alas kaki dari wilayah Jabotabek, Jawa Barat, dan Jawa Tengah untuk membentuk satu asosiasi yang diberi nama Asosiasi Persepatuan Indonesia atau disingkat APRISINDO.

Sejumlah pabrikan alas kaki dan Menteri Perindustrian sepakat untuk menjadikan organisasi APRISINDO sebagai kendaraan untuk mempertahankan perkembangan industri alas kaki dalam segala aspeknya. Perkembangan industri sepatu pada periode tersebut secara umum masih didominasi merek-merek internasional (branded shoes), khususnya untuk tujuan pasar ekspor, seperti Nike, Reebok, Adidas, dan merek internasional lainnya. Pertumbuhan industri alas kaki nasional ditandai dengan semakin meningkatnya nilai ekspor tahunan. Sejak saat itu, alas kaki menjadi salah satu komoditas ekspor dari Indonesia yang menyumbangkan devisa cukup besar bagi negara.  

Puncaknya terjadi pada tahun 1996, dimana industri alas kaki nasional mampu menampung sebanyak 850.000 tenaga kerja langsung serta tenaga kerja tidak langsung yang bekerja di berbagai industri pendukung. Nilai ekspor pada tahun tersebut merupakan angka tertinggi, yakni mencapai US$ 2,2 miliar. Namun, akibat adanya badai krisis yang menghantam seluruh sektor ekonomi nasional, tak terkecuali industri alas kaki, industri ini pun mengalami penurunan kinerja yang cukup signifikan.  

Krisis keuangan yang terjadi pada tahun 1997 telah menyebabkan sendi-sendi perekonomian runtuh, terutama sektor perbankan. Situasi krisis yang berkepanjangan telah menyebabkan instabilitas perekonomian nasional, yang pada akhirnya berakibat tidak kondusifnya situasi ekonomi dan sosial.  

Akibat krisis, banyak industri alas kaki tidak mampu bertahan. Permasalahan pun datang silih berganti tanpa ada penyelesaian yang komprehensif. Banyak industri pendukung merelokasikan pabriknya ke luar negeri yang dinilai lebih kondusif. Hal ini menyebabkan turunnnya angka produksi serta kurangnya suplai bahan baku. Perbankan nasional dalam situasi yang tidak jauh berbeda juga tidak mampu mengucurkan kreditnya ke industri alas kaki. Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah melakukan kerjasama di bidang Pendanaan Ekspor dengan pemerintah Jepang dan AS. Namun, akibat situasi yang kurang mendukung, skema bantuan keuangan ini pun tidak batal terealisasi.   

Di tengah situasi yang serba tidak menentu, APRISINDO terus berupaya mendorong para anggotanya untuk tetap bertahan menghadapi badai krisis. Sejak 2000, upaya APRISINDO tampak membuahkan hasil, industri alas kaki tetap mampu bertahan dalam situasi bisnis yang kurang menguntungkan.

Krisis ekonomi juga telah melahirkan euforia politik menyusul runtuhnya rezim Orde Baru. Dari perspektif ketenagakerjaan, berbagai serikat pekerja juga mulai berani menyuarakan hak-haknya, terkait dengan hak asasi tenaga kerja. Di tengah situasi ketenagakerjaan yang kurang kondusif, pemerintah menerbitkan UU No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan, yang oleh dunia usaha dianggap menghambat perkembangan industri di Tanah Air, khususnya menyangkut masalah pembayaran pesangon.   

Dalam upaya terus mempertahankan eksistensi serta mengembangkan industri alas kaki nasional, APRISINDO berupaya memperluas perannya untuk mendukung seluruh sektor industri alas kaki. APRISINDO memfokuskan pada beberapa isu penting, antara lain :  
•    Mempertahankan industri alas kaki serta meningkatkan kemampuannya untuk bersaing di pasar global.
•    Mendorong pertumbuhan sepatu non-sport serta industri alas kaki berbasis UKM.
•    Melakukan konsolidasi dengan industri pendukung alas kaki.

Peran asosiasi ke depan semakin diakui oleh para pemangku kepentingan (stakeholders) di industri alas kaki nasional. Hal ini ditandai dengan keterlibatan APRISINDO secara aktif dalam berbagai kegiatan dan forum terkait industri alas kaki nasional.  

Berikut Susunan Pengurus (Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal APRISINDO) dalam dua dekade terakhir :

Tahun

Ketua Umum

Sekretaris Jenderal

1991-1994

F.Welirang

Zainir Umar

1994-1997

Drs. Frans Hendrawan

Eddy Widjanarko

1997-2000

Anton J. Supit

Djimanto

2000-2003

Anton J.Supit

Djimanto

2003-2006

Drs. Harijanto

Yudhi Komarudin SE,MBA

2006-2009

Eddy Widjanarko

Elmore Simorangkir/Binsar Marpaung

2009-2012

Eddy Widjanarko

Binsar Marpaung SH.MH

 

Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).

Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.

Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.

Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.