Title
Ketua Umum APRISINDO menghadiri Conference International Footwear Association di Dhaka
Ditulis oleh Aprisindo   
Kamis, 21 Desember 2017 04:20
untuk yang ke 36 kalinya kembali telah dilaksanakan Conference International Footwear Association (CIFA), pada kesempatan tersebut sebagai tuan rumah adalah Bangladesh dan dilaksanakan di Dhaka pada tanggal 14-16 November 2017. Hadir sebagai perwakilan dari Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) adalah Ketua Umum Bapak Eddy Widjanarko. CIFA ke 36 ini diikuti oleh 14 organisasi dari 12 negara di Asia, yaitu dari Bangladesh, China, Vietnam, India, Hongkong, Indonesia, Jepang, Malaysia, Filipina, Korea, Thailand, dan Taiwan.
     Pada konfrensi tersebut masing-masing negara berkesempatan memberikan presentasi tentang konsisi dan perkembangan industri alas kaki dinegaranya masing-masing yang meliputi produksi, potensi pasar domestik dan proyeksi pertumbuhan ekspor dan pasar domestik dll. Pada kesempatan tersebut Bapak Eddy Widjanarko memberikan presentasi mengenai hal terkait industri alas kaki di Indonesia, diantaranya :  
    Pertumbuhan ekspor alas kaki melambat, sementara pertumbuhan impor meningkat, khususnya untuk komponen pendukung. Sementara itu, Industri alas kaki Indonesia terbukti memiliki daya saing yang masih cukup kuat di pasar Internasional dan Amerika Serikat serta  Uni Eropa  merupakan   pasar  terbesar  untuk  ekspor alas  khaki Indonesia,   
Potensi pasar alas kali dalam negeri.
Dengan populasi lebih dari 250 juta orang, Indonesia memiliki pangsa pasar pasar alas kaki yang sangat besar di negara ini. Pada 2016, konsumsi alas kaki Indonesia adalah 2,3 pasang per kapita, lebih rendah dari rata-rata konsumsi dunia (2,5 pasang per kapita). Dengan demikian peluang pasar dalam negeri masih sangat besar.
Tersedianya Tenaga Terampil
Total angkatan kerja di Indonesia pada tahun 2016 berjumlah 127,8 juta (Bekerja: 120,8 juta, dan pengangguran: 7,0 juta), dimana 48% memiliki tingkat pendidikan sekolah dasar dan menengah.Di satu sisi tenaga kerja ini merupakan potensi besar sebagai modal manusia jika diikuti dengan peningkatan keterampilan dan produktivitas
Investasi industry alas kaki dan kulit
Investasi asing di industri alas kaki Indonesia terutama berasal dari China, Taiwan & Korea. Investasi China tumbuh di industri alas kaki di Indonesia karena meningkatnya biaya tenaga kerja China sehingga mereka dapat pindah ke negara-negara ASEAN, terutama Vietnam, Indonesia dan Kamboja.  Kontribusi UE terhadap produksi alas kaki terutama dilakukan di mesin produksi dan bagiannya yang terutama diimpor dari Italia dan Prancis.
Tantangan industry alas kaki Indonesia
Ketergantungan yang signifikan pada merek asing; Upaya mengenalkan merek nasional; Industri pendukung sedang dalam tahap pengembangan Infrastruktur membutuhkan banyak perbaikan; Pengembangan kompetensi sumber daya manusia
Dukungan pemerintah
1.Industri  alas  kaki  termasuk  dalam 10  industri  prioritas yang  akan  dikembangkan  Industri  alas  kaki  merupakan  satu  dari  10  industri   andalan  dan  prioritas 
    yang akan   dikembangkan   oleh  Kementerian   Perindustrian.  Hal   ini  tercantum   dalam    Rencana  Induk  Pengembangan Industri Nasional (RIPIN) dan
   diturunkan   dalam  Rencana  Strategis 2015-2019.
2.Pemerintah secara proaktif berkolaborasi dalam sebuah Perjanjian Perdagangan Bebas dengan Mitra Dagang Utama & Eropa). Apakah dalam proses negosiasi
   Indonesia - EU CEPA (Comprehensive Economic Partnership Agreement)  Kertas penggaruk sudah selesai Indonesia - Australia CEPA